Pemesanan Hubungi

Selangkah Anak Perempuan Keluar dari Rumah tanpa Menutup Aurat, Maka Selangkah juga Ayahnya itu Hampir ke Neraka - Aisyah Collection Pemesanan : 081545198816 081322236800 BB 573DCB1C

Minggu, 17 Januari 2016

HIJAB WANITA MUSLIMAH


TAFSIR QS. AL-AHZAB AYAT 59

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (59)
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab:59)

MAKNA GLOBAL
Allah SWT memerintahkan nabi-Nya yang mulia SAW, agar mengarahkan seruan kepada umat Islam semuanya, agar beramal dengan berpegang teguh pada adab-adab Islam, petunjuk-petunjuk-Nya yang utama, aturan-aturan-Nya yang bijaksana, yang dengannya terdapat kebaikan individu dan kebahagiaan masyarakat, dan khususnya pada masalah sosial yang umum, yang berhubungan dengan keluarga muslim, ketahuilah dan dia adalah hijab syar’i yang diwajibkan oleh Allah bagi wanita muslimah, untuk menjaga kemuliaannya, menjaga kehormatan dirinya, menjaganya dari pandangan-pandangan yang melukai, dan kalimat-kalimat yang menyakitkan, dan jiwa-jiwa yang sakit, dan niat-niat yang buruk, yang disembunyikan oleh laki-laki fasik kepada wanita-wanita yang tidak memiliki malu. Maka Allah berfirman yang maknanya:
Wahai Nabi (Muhammad), sampaikanlah perintah-perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin, dan mulailah dari dirimu sendiri, maka perintahkanlah istri-istrimu, ummahatul mukminin yang suci, dan anak-anakmu yang utama dan mulia agar mereka menjulurkan jilbab yang syar’i, dan agar mereka berhijab dari pandangan-pandangan laki-laki, agar mereka menjadi teladan bagi seluruh wanita dalam hal menjaga diri, menutup aurat, dan memiliki rasa malu, sehingga tidak ada orang fasik yang tamak kepada mereka, atau tidak akan ada orang fajir yang mencapai kehormatan mereka. Dan perintahkanlah seluruh istri orang mukmin agar mereka mengenakan jilbab yang lapang, yang menutupi kecantikan-kecantikan dan perhiasan mereka, dan mencegah lisan-lisan yang buruk terhadap mereka. 

Dan perintahkan kepada mereka seperti itu agar mereka menutup wajah mereka dan badan mereka dengan jilbab, agar mereka dibedakan dari budak wanita, sehingga mereka tidak menjadi sasaran orang-orang yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu, dan agar mereka dijauhkan dari menyerupai orang-orang fajir, lalu tidak dihadapkan kepada mereka manusia yang buruk. Maka hal itu lebih dekat agar mereka dikenal dengan menjaga diri, maka tidak akan ada yang tamak kepadanya orang yang dalam hatinya terdapat penyakit. Dan Allah Maha Pengampun,mengampuni orang yang mengerjakan perintah-Nya, Penyayang terhadap hamba-Nya dimana Allah tidak mensyariatkan kepada mereka kecuali apa yang di dalamnya terdapat kebaikan mereka dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

ASBABUN NUZUL
Para mufasir meriwayatkan mengenai asbabun nuzul ayat yang mulia ini, bahwa seorang perempuan dan budak perempuan keduanya keluar rumah pada malam hari untuk membuang hajat di kebun dan di antara pohon kurma, tanpa bisa dibedakan antara wanita merdeka dan budak. Dan di Madinah dahulu ada orang-orang fasik, mereka selalu dalam kebiasaan jahiliyah mereka untuk merintangi budak-budak wanita. Dan sering kali mereka merintangi wanita-wanita merdeka. Maka apabila dikatakan kepada mereka: kami menyangka mereka adalah budak-budak perempuan.

Lalu wanita-wanita merdeka diperintahkan untuk menyelisihi budak (berbeda penampilan dari budak) dalam berpakaian, maka mereka (wanita-wanita merdeka) menutup aurat agar membuat (orang lain) malu dan agar disegani, sehingga tidak ada orang yang hatinya berpenyakit untuk berkeinginan pada mereka. Lalu Allah menurunkan ayat ini:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ...
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu... (QS. Al-Ahzab [33]:59)[1]

Ibnu al-Jauzy mengatakan: sabab nuzul ayat ini adalah bahwa orang-orang fasik dahulu mereka mengganggu para wanita apabila mereka keluar rumah pada malam hari. Maka apabila mereka melihat perempuan yang memakai cadar mereka membiarkannya (tidak mengganggunya), dan mereka mengatakan: ini adalah wanita merdeka. Dan apabila mereka melihat perempuan yang tidak memakai cadar, mereka mengatakan: ini adalah budak wanita. Lalu mereka menyakiti perempuan tersebut. Lalu turunlah ayat ini. Pendapat ini dikatakan oleh As-Sadiy.[2]

Kamis, 10 Desember 2015

Kisah Nyata Yang Mengharukan

Suatu hari waktu saya istirahat makan di kantor, kebetulan kantor saya di daerah yang lumayan 'minus' ..
kalau teman-teman yang ada di Jakarta mungkin tau daerah Stasiun Kota bagaimana.
Banyak pengemis, gelandangan dan orang-orang yang tingkat kehidupannya (maaf) dibawah kesejahteraan.
Sebelum mencari makan, saya beli rokok dulu biar habis makan tidak bingung mencari rokok..
Saya nyalain satu batang..
Sambil merokok saya jalan buat mencari tempat yang enak buat duduk dan makan.
Sampai akhirnya saya menemukan sebuah tempat yang menurut saya enak dan teduh, saya celingukan soalnya semua tempat duduk sudah dipakai orang-orang.
Di sela-sela celingukan saya, seorang bapak tua bilang ke Saya:
"Silakan pak, disini saja duduk sama saya" katanya..
Saya iyakan saja , meskipun rada panas tapi yang ada cuman disitu..
Saya perhatikan bapak itu , orangnya sudah tua banget, kurus, giginya sudah ompong, rambutnya sudah putih semua, membawa tas besar sama kresek isinya plastik-plastik­­..
Saya tidak sempat foto, tidak enak juga kalau saya foto-foto, nanti dikira apaan..
Dimulailah obrolan saya sama bapak itu
Saya : A
Bapak : B
A : Lagi nunggu apa pak?
B : Tidak mas, ini cuma duduk-duduk saja habis cari sampah seharian.. capek..
A : Jalan dari jam brapa pak?
B : Dari pagi mas, sudah lumayan banyak dapetnya ini..
A : Oohhh...
Obrolan sempat berhenti sebentar , saya menikamati rokok, bapaknya ngerapiin plastik-plastik­­nya..
Sampai pada akhirnya saya melihat si Bapak pijit-pijitin kepalanya sambil hela napas panjang..
A : Pusing ya pak? siang-siang panas begini memang bikin pusing..
B : (ketawa kecil) iya mas.. agak pusing kepala saya..
A : Bapak perokok? ini kalau bapak mau.. (sambil sodorin rokok saya yang tinggal sebatang)
B : Tidak mas makasih, saya tidak merokok.. sayang uangnya, lebih baik buat makan daripada beli rokok.. lagian tidak bagus juga buat badan.
Dalam hati saya rada tertohok juga ..
A : Iya juga sih pak.. (nginjek rokok saya)
Habis itu saya dengar suara perut .. *kruuuuukk*..
Saya spontan noleh ke arah Bapak.
A : Bapak belum makan pak?
B : (senyum) Belum mas, nanti mungkin..
A : Wah, nanti tambah pusing pak?
B : Iya mas, saya sudah biasa kok..
Tidak lama, kedengeran lagi bunyi perutnya ..
A : Bapak beneran tidak mau makan pak?
B : Iya mas, nanti saja...
Saya sudah merasa kalau bapak ini bukannya tidak mau makan, tapi beliau tidak punya uang buat makan..
A : Sebentar ya pak, saya ke warung dulu pesan makan..
B : Oh.. iya mas, silahkan..
Saya mencari warung nasi padang terdekat, saya pesan buat saya sendiri sama saya inisiatif membelikan nasi sama ayam buat si bapak.
Selesai pesen, saya bawa nasi dua piring ke tempat duduk tadi, terus duduk..
Saya mau langsung ngasih tapi kok saya takut kalau bapaknya tersinggung, jadi saya akting sedikit..
Saya pura-pura dapet telpon dari teman
A : (pura-pura telpon) Yaaah? Kok tidak jadi kesini? udah saya beliin nih... ooohh.. Ya sudah tidak apa-apa..
*pura-pura tutup telpon*
A : Wah payah ini teman saya, sudah dibelikan makanan ternyata tidak jadi..
B : (senyum) Ya tidak apa-apa mas, dibungkus saja nanti bisa dimakan sore..
A : Wah, basi pak kalau nanti sore.. dimakan sekarang pasti tidak habis.. gimana ya?
Mmmm... Bapak kan belum makan siang, ini makanan daripada sayang tidak ada yang makan bagaimana kalau bapak saja yang memakan pak? nemeni saya makan sekalian pak..
B : Waduh mas, saya tidak punya uang buat bayarnya..
tepat dugaan saya, dalam hati..
A : Tidak apa-apa pak, makan saja.. saya bayarin! saya lagi ulang tahun hari ini..(Berbohong­­)
B : Wah.. beneran tidak apa-apa mas? saya malu..
A : Lo? ngapain malu pak?
Sudah bapak makan saja..
B : Iya mas, selamat ulang tahun ya mas..
A : Iya pak.. bapak mau pesan minum sekalian tidak? saya mau pesan..
B : Tidak mas.. Tidak usah..
Saya manggil tukang minuman, saya pesan 2 es teh manis..
B: Lo mas? saya tidak pesan..
A: Iya pak, saya beli dua.. haus banget soalnya.. (Saya berbohong lagi)
Tanpa saya duga, bapak menetes airmatanya..
beliau ngucap syukur berkali kali....
B : Mas, saya makasih sudah dibelikan makanan.. saya belum makan dari kemarin sebenarnya, cuma saya malu mas, saya inginnya membeli makan sama uang sendiri karena saya bukan pengemis.. saya sebetulnya lapar sekali mas, tapi saya belum dapet uang hasil mencari sampah..
Saya tertegun mendenger cerita beliau , tidak sadar saya ikut merasa perih banget dalam hati..
Menyesek banget dalam hati saya, saya secara tidak sadar hampir neteskan airmata..
tapi saya berlagak cool..
A : Ya sudah, bapak makan saja nasinya.. nanti kalau kurang saya pesankan lagi ya pak? jangan malu-malu..
B : (masih nangis) Iya mas.. makasih banyak ya mas.. nanti yang diatas yang balas..
A : Iya pak makasih doanya..
Akhirnya saya makan berdua sama beliau, sambil cerita-cerita..
Dari cerita beliau saya tau kalau beliau punya dua anak, yang satu sudah meninggal karena kecelakaan, yang Satunya sudah pergi dari rumah tidak pulang-pulang sudah 3 tahun.
istri beliau sudah meninggal kena kanker tahun lalu. dan parahnya lagi rumahnya diambil sama orang kredit gara-gara tidak bisa melunasin uang pinjaman buat berobat istrinya..
Miris banget saya mendengar cerita beliau, sebatang kara, tidak punya rumah, anaknya durhaka, jarang makan.. malah beliau cerita pernah dipalak preman waktu mulung di Jakarta..
Rasanya saya beruntung banget sama kondisi saya sekarang, saya manyesal pernah mengeluh tentang kerjaan saya, tentang kondisi kosan, dsb.. sedangkan bapak ini dengan kondisi yang serba kekurangan masih selalu tersenyum..
Rasanya sepiring nasi padang dan segelas es teh yang saya kasih tidak setimpal banget sama pelajaran yang saya dapat..
Tadi saya belum ambil uang, jadi saya cuma ngasih seadanya kembalian dari warung padang ke bapak itu, itupun pakai eyel-eyelan dulu sama bapaknya soalnya beliau tidak mau dikasih uang. tapi akhirnya dengan sedikit memaksa saya kasih uang ke beliau.
Saya didoain banyak banget sama bapak tadi..
Dan ada satu hal yang bikin saya tercengang waktu mau meninggalkan tempat tadi..
Sambil jalan saya menoleh ke belakang, si bapak sudah tidak ada..
Saya cari-cari ternyata­ si bapak ada di depan kotak amal masjid masukin duit ke dalam kotak itu!
Saya makin tersentuh sama beliau.. di tengah-tengah kesulitan yang beliau alami, beliau masih sempat beramal! berbagi dengan orang lain..
Saya nangis .. Saya merasa sangat kecil sebagai manusia..
Saya merasa ditunjukan sesuatu yang benar-benar hebat!
“Semoga bapak itu dilancarkan segala urusannya, diberi kemudahan dan rizky berlimpah, dan selalu berada dalam lindungan Allah”
..Aamiin..

Senin, 16 November 2015

Lebih Anggun dengan Hijab Syar"i

          Sesungguhnya agama Islam memerintahkan setiap orang muslim agar mencintai saudaranya bagaikan mencintai dirinya sendiri, kemudian menghindari mereka dari keburukan sebagaimana ia menghindarkan diri daripadanya, nasehat menasehati demi menta’ati kebenaran yang telah didatangkan dari Allah dan Rasul-Nya, baik itu berupa perintah maupun larangan, dengan hati rela mematuhinya. Maka demi kesucian dan keutuhan, Allah Maha Penyayang memerintahkan para muslimah agar mengenakan hijab (jilbab), supaya berada di sisi Allah, dan ditempat sejauh mungkin dari perbuatan keji yang dapat menimpa pada diri kaum muslimah.
          Ayat Al Qur’an ini : “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan pehiasaannya kecuali yang biasa nampak dari pandangan. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan jangan-lah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau keapda ayah mereka, atau putra-putra mereka, atau saudara- saudara mereka, atau putra-putra suami mereka, atau wanita- wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap kaum wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat kaum wanita. dan janganlah mereka memukul kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Qs An Nur : 31) Bagaimana jilbab yang dimaksud dalam ayat di atas, setidaknya harus memenuhi syarat-syarat hijab atau jilbab sebagai berikut dan inilah jilbab yang syar’i dan benar : Menutupi seluruh tubuh, sebagaimana yang difirmankan Allah, “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka mudah untuk dikenal, kerena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab [33] : 59)
          Maksud daripada berhijab adalah untuk menutup tubuh wanita dari pandangan laki-laki. Jadi, bukan yang tipis, yang pendek, yang ketat, tau berkelir serupa dengan kulit, maupun yang bercorak dan yang bersifat mengundang penglihatan laki-laki. Harus yang longgar, sehingga tidak menampakkan tempat-tempat yang menarik pada anggota tubuh. Sungguh fenomena jilbab pada saat sekarang, membuat kita di satu sisi patut bersyukur, wanita sudah tidak malu lagi untuk berjilbab di manapun tempatnya sehingga jilbab benar-benar telah membudaya di masyarakat dan dianggap sesuatu yang lumrah. Namun di sisi lain jilbab yang sesungguhnya harus memenuhi prasyarat jilbab syar’i sebagaimana tersebut di atas seakan telah berubah fungsi dan ajaran, banyak sekali dan telah bertebaran dimana-mana jilbab yang bukan lagi syar’i tapi lebih terkesan trendy dan mode atau lebih dikenal dengan jilbab funky yang kebanyakan dari semua itu adalah menyimpang dari syarat-syarat syara’ jilbab yang sebenarnya.
          Diantara penyimpangan-penyimpangannya yang ada, antara lain : Tidak ditutupnya seluruh bagian tubuh. Seperti yang biasa dan dianggap sepele yaitu terbukanya bagian kaki bawah, atau bagian dada karena jilbab diikatkan ke leher, atau yang lagi trendy, remaja putri memakai jilbab tapi lengan pakaiannya digulung atau dibuka hingga ke siku mereka. Sering ditemui adanya perempuan yang berjilbab dengan pakaian ketat, pakaian yang berkaos, ataupun menggunakan pakaian yang tipis. Sehingga walaupun perempuan tersebut telah menggunakan jilbab, tapi lekuk-lekuk tubuh mereka dapat diamati dengan jelas. Didapati juga perempuan yang berjilbab dengan menggunakan celana panjang bahkan terkadang memakai celana jeans. Yang perlu ditekankan dan telah diketahui dengan jelas bahwa celana jeans bukanlah pakaian syar’i untuk kaum muslimin, apalagi wanita.
          Banyak wanita muslimah di sekitar kita yang memakai jilbab bersifat temporer yaitu jilbab dipakai hanya pada saat tertentu atau pada kegiatan tertentu, kendurian, acara pengajian kampung dsb. Setelah itu jilbab dicopot dan yang ada kebanyakan jilbab tersebut sekedar mampir alias tidak sampai menutup rambut atau menutup kepala. Terkadang, kalau ditanyakan kepada mereka, mengapa kalian berbuat (melakukan) yang demikian, tidak memakai jilbab yang syar’i. Padahal telah mengetahui bagaimana jilbab yang syar’i, sering didapati jawaban, “Yaa, pengen aja “, atau “Belum siap”, atau “Mendingan begini daripada tidak memakai jilbab sama sekali “, atau “Jilbab itu kan tidak hanya satu bentuk, jilbab khan bisa dimodofikasi yang penting khan menutup aurat”, terkadang didapati juga jawaban, “Kok kamu yang ribut, khan emang sudah menjadi mode yang seperti ini!”.
          Padahal, dituntutnya jilbab dengan syarat-syarat yang telah ditentukan sesuai dengan hukum syara’ yang disebutkan di atas, sesungguhnya akan membawa kebaikan bagi kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat dan bukan didasari atas nafsu atau ditujukan untuk mengekang kita.
          Saat ini perempuan yang memakai jilbab sesuai tuntunan dianggap sebagai orang yang aneh. Apalagi di kampus, pemandangan itupun sudah jarang di dapat, malah apabila perempuan itu lewat semua orang memperhatikan keanehan tersebut. Serasa mencari mutiara di laut untuk mencari seseorang yang benar-benar mengerti arti jilbab yang dipakai di kalangan kampus. Tidak heran kalau banyak yang melakukan hal seperti itu, karena di kampus sangat minim sekali pengetahuan tentang agama walaupun perguruan tinggi tersebut barbasis agama Islam.
          Kampus itu merupakan tempat adanya banyak orang yang saling berinteraksi satu sama lain, berbagai sifat dan kepribadianpun berbeda-beda. Kalau kita tidak pandai-pandai dalam bergaul maka kita akan ikut terjerumus dalam hal yang sama yang diikuti oleh banyak kaum remaja saat ini, yaitu perbuatan-perbuatan yang menyimpang. Walaupun dari pihak organisasi Islam di kampus mengadakan kegiatan pengajian atau kegiatan seminar Islami, jarang sekali ada mahasiswa yang antusias untuk datang menghadirinya. Bahkan bisa jadi yang datang hanya orang-orang dari organisasi Islam itu sendiri. Betapa tidak memperihatinkannya anak muda sekarang ini, hanya untuk mendatangi sebuah pengajianpun tidak mau. Sedangkan kalau mendatangi tempat-tempat maksiat selalu saja sempat. Astagfirullah.
          Maka dari itu kita harus pandai-pandai dalam menjaga sikap. Sebagai seorang muslimah sejati, buatlah orang yang ada disekitar merasa nyaman dan ada kedamaian hati. Bukan malah membuat tingkah laku yang kurang baik di mata masyarakat, apalagi berkedok dengan jilbab. Misal orang yang berjilbab masih juga melakukan tindakan-tindakan yang dilarang oleh agama, contohnya yaitu berpacaran. Malah banyak sekali perempuan yang berjilbab ternyata berani, memakai pakaian yang dilarang atau haram dipakai di hadapan para lelaki yaitu pakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Padahal seorang wanita yang menjaga kehormatan dan rasa malunya adalah wanita yang tidak membiarkan laki-laki melihat auratnya demi menjaga ketaatan kepada Allah dan melindungi kehormatan serta kesusilaannya. Adapun wanita yang suka menuruti hawa nafsu, sembrono dan lalai adalah wanita yang senang bila tubuhnya dicumbu pandangan-pandangan nakal.
          Jilbab bukan hanya sekedar dipakai untuk hiasan atau untuk mendatangi acara-acara tertentu, tetapi jilbab adalah setiap baju yang dikenakan wanita untuk menutupi seluruh tempat-tempat perhiasan. Janganlah kita terpedaya dan takhluk dalam mempertahankan jilbab melawan agresi budaya pamer aurat. Lindungilah tubuhmu dari sorot tajam mata-mata keranjang, bentengi dengan perisai kesusilaan untuk melumpuhkan panah-panah tajam yang terus saja mengintai setiap hari. Bukan berarti apabila wanita memakai jilbab akan terhalang dalam menikmati masa muda kita, hapus pikiran itu. Para kaum Hawa harus berpikir sejenak dan renungkan apakah sepadan budaya buka-bukaan bila dibandingkan dengan budaya malu, kesusilaan dan kewibawaan. Dan pikirkan apabila kita terus saja memamerkan aurat dengan sesuka hati, berapa jumlah dosa yang akan ditanggung setiap harinya dengan membiarkan beribu-ribu pasang mata lelaki yang melihat dan bisa sesuka hati menikmati lekukan tubuh. Dan betapa banyaknya jiwa-jiwa kotor yang ingin menjalin hubungan denganmu karena kamu terus saja memamerkan auratmu di depan mereka.
          Jadi jangan takut untuk mengenakan jilbab yang syar’i. Jilbab tidak akan menghalangi dalam menikmati masa muda. Akan tetapi bagaimana harus sejalan dengan aturan yang telah dibuat oleh Allah Swt. Bukan berarti juga apabila saat memakai jilbab harus bersikap tertutup dan menjauh dari pergaulan masyarakat. Tapi sebaliknya, Islam menghendaki kita menjadi pribadi yang menyenangkan, mudah akrab dan ramah terhadap orang lain, lincah tetapi tetap menjaga rasa malu, rendah hati tetapi tidak rendah diri. Juga menjadi seseorang yang memiliki kejujuran, tidak banyak bicara tetapi banyak berbuat, berbakti kepada orang tua dan suka menyambung selaturahmi, serta memiliki jiwa penyabar, tak banyak menuntut, penuh perasaan dan menjaga kesucian diri itu yang paling penting.
          Menjadi perempuan yang ramah dan selalu berwajah ceria. Jangan berdandan berlebihan karena dengan memalsukan kecantikan dan berdandan secara over tidak akan menambah kecantikan malah memperburuk wajah dan menyembunyikan kecantikan yang sebenarnya yang diberikan oleh Allah. Apa pantas disebut cantik ketika ada seorang perempuan yang berjalan ditengah jalan dengan memakai pakaian yang ketat dan transparan. Apakah layak disebut kecantikan apabila itu adalah suatu hal yang akan mengantarkanmu ke lubang kemaksiatan dan kesesatan.
          Janganlah sampai suatu kaum, di mana mereka meremehkan perempuan-perempuan/muslimah yang berjilbab hanya karena memakai pakaian/jilbab yang tidak sesuai dengan hukum syara’. Apabila kaum telah meremehkan hal ini, maka bagaimana dengan pandangan (penilaian) Allah dan Rasul-Nya terhadap wantia yang seperti ini ? Tidakkah ada bedanya antara perempuan yang berjilbab dengan perempuan yang tidak berjilbab? sumber : http://kronikastain.com/